Jumat, September 11, 2009

Pasangan Dalam Diri

Sebagaimana Struktur Insan, oleh Imam Al-Ghazali ra dibagi dalam tiga aspek: Jiwa (an-nafs), Ruh dan Jasmani (jism)/jasad.
Jasmani atau jasad manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan nafsnya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa tertawa. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah.

Kemudian adanya ruh membuat manusia mirip dengan hewan karena ruh yang dimaksud di sini adalah ruh yang juga dimiliki oleh hewan, yaitu ruh hewani. Dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah nafakh ruh. Ruh hewani ini adalah sesuatu yang bertempat, sehingga eksistensinya bisa dideteksi oleh ilmu kedokteran. Ia berjalan (mengalir) di seluruh anggota tubuh, pembuluh darah , urat nadi dan syaraf. Kehadirannya di suatu anggota tubuh, membuat bagian tubuh tersebut menjadi hidup. Apakah itu berwujud gerakan, sentuhan, menatap, mendengar, dan sebagainya.

Ruh inipun bukanlah Ruh Amr yang dimaksud di QS Al-Israa’ [17]: 85
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh. Katakanlah: Ar-Ruh itu berasal dari Amr Rabbku, dan tidaklah engkau diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit." (Al-Israa’ [17]: 85)

Kemudian manusia juga memiliki jiwa (an-nafs) yang merupakan jauhar, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat manapun dan juga tidak bertempat pada apapun. Jiwa adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah kematian tubuh dimana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan jiwa tidak akan hilang dan tetap eksis, sebagaimana firman-Nya,"Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka, dan mendapatkan rizkinya…” (QS Ali Imran [3]: 169).

pada saat seseorang memahami tujuan hidupnya, maka ia akan memperhatikan peran masing-masing aspek dalam dirinya, mengenal pula adanya sebuah hubungan keterpasangan beserta fungsinya masing-masing. mana yang seharusnya jadi pemimpin dan mana yang harus dipimpin. salah satu yang perlu direnungkan adalah bagaimana interaksi pasangan dalam diri berupa jiwa dan jasad, ibaratnya pasangan yang batin dengan yang lahir. Pasangan jiwa dan jasad laksana pasangan laki-laki dan perempuan pula. “Kaum laki-laki (suami) adalah qawwam (pemimpin) bagi kaum wanita (istri).” (An-Nisaa’: 34) dalam diri kita terdapat aspek laki-laki yaitu jiwa yang harus menjadi pemimpin bagi perempuan yaitu aspek jasad.

Sang Jiwa, atau nafs, sebagai figur laki-laki tentu Allah berikan kemampuan memimpin bagi jasadnya. Di dalam jiwa terdapat inti berupa qalb, yang juga berperan sebagai tempat persinggahan cahaya iman. Dan lewat inti dari sisi kemanusiaannya inilah Allah memberikan petunjuk-petunjuk-Nya. Karena itu, tatkala sang jiwa berhasil dituntun oleh Allah untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan sesuai kehendak-Nya, maka sang hamba ini pun akan memiliki kemampuan pula untuk dapat menuntun jasadnya menggerakan apa yang menjadi keinginan jiwanya… (disarikan dari tulisan Kang Kuswandani Muhammad Yahdin)

Sebelum menikah dengan orang lain(di luar diri), sudah seharusnya untuk menikahkan pasangan antara jiwa dan jasad, dimana sang jiwa harus dapat menuntun sang jasadnya. dan itu mungkin tidak semuanya akan berjalan amat mulus. Penolakan, perbedaan, ketidakcocokan akan senantiasa ada.

Berbeda dengan bentuk hubungan/pasangan dengan orang lain(di luar diri), di mana kalau sudah tiada mungkin bisa mencari penggantinya. tapi dengan diri sendiri, kita tidak punya pengganti. Jasad dan jiwa yang kita miliki hanyalah yang kita punya sekarang. kita tidak punya pilihan menolak, cerai atau berpisah dengan diri sendiri, satu-satunya pilihan : menikah dengan sang diri.
Selengkapnya...

Minggu, Agustus 23, 2009

Puasa: Istilah dan Maknanya


Sebagaimana diutarakan HHM, dalam budaya Sunda terdapat berbagai istilah dan pribahasa yang muncul dalam masyarakat terkait ibadah puasa Ramadhan, seperti istilah: munggah puasa, buka puasa, bocor, dan lebaran; atau pribahasa: mepeg Rewah munggah puasa, nu puasa nu teu unggah kana seliran, dan lain-lain. Berikut adalah beberapa makna yang terkandung didalamnya, yang disarikan dari: Mertelakeun Basa jeung Istilahna, oleh Haji Hasan Mustapa.

***

(1)
Ada sebuah pribahasa terkenal: mepeg Rewah munggah puasa, yang berarti "menutup (bulan) Syaban, munggah (naik ke bulan) Ramadhan". Istilah "munggah" hanya dikenal untuk dua hal: puasa dan haji, yang mengandung arti esok lebih tinggi dari sekarang. Maknanya adalah: munggah dalam pengabdian.

Itu sebabnya puasa itu berat bagi orang yang hendak berpuasa, tetapi ringan bagi orang yang hendak mengabdi semata. Pribahasanya: nu puasa nu teu unggah kana seliran.

Istilah lain yang biasa diucapkan menjelang Ramadhan adalah "isukan mepet". Artinya: besok (puasa) akan menyumbat panca indera, serta menahan syahwat dan hawa-nafsu. Kata orang Jawa: megeng atau megung nafsu yang sering lepas.

(2)
Umumnya kita mengisi malam puasa dengan tarawih, juga tadarus semalaman karena mengharapkan katinggang Lailatul-Qadar. Disebut "katinggang" (tertimpa), sebab Al-Quran sendiri mengatakan Lailatul-Qadar itu "turun" atau "jatuh": inna anzalnaahu fi lailatil-qadri (QS.97:1). Maksud ayat ini adalah: (alam) akhirat turun ke dunia.

(3)
Kalau waktu surup panon poe (tenggelamnya matahari, maghrib) anehnya disebut "buka", bukan "tutup". Istilah ini mengandung arti bahwa puasa bukan suatu tindakan--yang harus ditutup--tetapi sebuah proses terbukanya pintu pengenalan Ilahiah manakala mencapai surup. Bukan surupnya matahari, tetapi surup kalbu dalam dalam tata-ibadah puasa.

Bila kalbu telah surup, akan ditandai dengan munculnya balungbang Timur, terbitnya purnama opat belas. Perlambang dari bersihnya hati dan terbitnya purnama pengabdian yang tanpa noda (hati yang suci dilambangkan sebagai purnama empat-belas, red).

(4)
Menjelang lebaran, ada suatu kewajiban yang disebut sebagai mayar fitrah; tanda bahwa bila berhasil puasa maka orang akan kembali dalam keadaan suci; dan turun (keluar dari Ramadhan, kebalikan dari munggah) dengan kelebihan bekal atau pahala.

(5)
Istilah untuk orang yang batal berpuasa disebut "bocor", ibarat perahu yang airnya merembes masuk. Pada saat berpuasa pun kita pun dilarang mendekati istri, seperti perahu bocor digedor-gedor. Demikian sisindirannya:

Keur ngagelar masamoan jeung dunungan, ulah lukak-jalingkak cara keur ngencar; sumawona petingan walilat. Artinya: "saat menggelar perjamuan dengan Tuhan, jagalah sikap (jangan seperti binatang liar); terlebih pada malam Takbiran" (tradisi tua melarang berhubungan intim di malam takbiran, malam suci penuh keagungan, red).

Bahwa menahan syahwat dan hawa nafsu harus berlanjut hingga malam Takbiran, dan kita tidak boleh dipusingkan dengan urusan Lebaran. Sementara tradisi saat ini justru menjadikan Lebaran sebagai hari pesta--ketimbang hari penyucian--dan sibuk dengan berbagai acara mudik, baju baru dan kue Lebaran.

(6)
Selepas Ramadhan datanglah lebaran. Ada yang memaknainya sebagai "bubaran dari dosa", "lebaran dari dosa", atau "lebaran dari kerugian". Dalam bahasa Arab biasa disebut "yaumul-ied" atau "iedul-ftri", bermakna: kembali kepada Tuhan atau kembali kepada kesucian.

(7)
Karena itu nasihat agama mengatakan: "yang sedang berpuasa hendaknya menjauh pertengkaran; karena pertengkaran dekat dengan amarah, dekat dengan api nafsu". Sebagaimana sebuah pribahasa: "nu puasa cilaka ku amarahna", artinya "yang puasa celaka karena amarahnya"--bagaimana kalau yang tidak puasa? tentu celaka karena dosanya. Nasihat ini bermaksud agar kita hendaknya menjauhi apa-apa yang dapat menyimpangkan manusia dari jalan taubat.

(8)
Siloka: yang mati di bulan puasa tidak akan disiksa dan dihisab. Siloka ini adalah bagi orang yang sudah surup (mati) dalam puasa dan matang puasanya; yang ditandai dengan hilangnya iri-dengki dan tanggalnya cinta dunia. Tidak disiksa? sebab apa dosanya. Tidak dihisab? sebab apa yang harus dihisabnya—orang dihisab bila mati membawa urusan yang tidak hak bagi dirinya.

Lagi pula, bukan mati sembarang mati, tetapi mereka yang telah eling jatnika-nya (mengenal diri). Kita gembira kalau bisa mati di bulan puasa, sebab merasa banyak dosa; gembira tidak dihisab, sebab merasa banyak hutang--dan hutang terbesar adalah kepada Tuhan.

(9)
Sudah umum diketahui bahwa pada saat bulan puasa setan-setan dipenjara dan malaikat berduyun-duyun membuka pintu surga--sebagaimana bunyi sebuah hadits. Banyak orang gembira mendengarnya; tetapi itu pertanda tidak mengerti, tidak paham hakikat agama.

Hanya bagi yang matang puasanya dan telah terkunci gerbang nafsu dan amarahnya, siloka ini berlaku. Bagi mereka buahnya adalah: jurig nyingkir setan nyingkah, akrab jeung malaekat nu teu boga napsu. Kapan setan berkeliaran lagi? nanti bada maghrib, setan keluar dari sarangnya seperti kelelawar. Tetapi barangsiapa yang kuat mengunci pintu rumahnya, merekalah pemilik siloka ini dan akan senantiasa terjaga meski berada di luar Ramadhan.

***

Nilai suatu ibadah tergantung dari yang mengolahnya, yang menjalaninya. Seperti pribahasa: Nu alus arihna, akeulna tangtu lewih alus, lewih pulen. Sekalipun puasa seumur hidup atau menjalani puasa Ramadhan berkali-kali, bila tidak bagus arihna maka tidak akan matang buahnya.
Selengkapnya...

Senin, April 13, 2009

Tips Pencarian Menggunakan Google

Tulisan ini dibuat untuk memahami bagaimana melakukan pencarian yang baik dengan menggunakan Google. Pada bagian akhir juga terdapat trik-trik dan keyword yang sering digunakan untuk melakukan pencarian file dan juga bagaimana mencari target dengan memanfaatkan Google.

— 01 // Penggunaan Dasar ———————————————–

- Google tidak “case sensitive”.
Keyword: linux = LINUX = LiNuX
Akan menghasilkan hal yang sama

- AND: Secara Default Google menggunakan keyword and.
Keyword: menjadi hacker
Hasilnya pencarian akan mengandung kata “menjadi” dan “hacker”

- OR: Digunakan untuk menemukan halaman yang setidaknya berisi salah satu dari keyword. Note: OR dituliskan dengan huruf besar semua.
Keyword: hacker OR c**c*er
Hasilnya pencarian akan mengandung kata “hacker” atau “c**c*er”

- +: Google akan mengabaikan pencarian dengan kata-kata umum seperti “how” dan “where”. Jika kata-kata umum ini begitu penting, anda bisa menambahkan “+” didepan keyword tersebut.
Keyword: hacker how ==> Kata “how” akan diabaikan
Keyword: hacker +how ==> Kata “how” akan diikutsertakan

- -: Tanda minus “-” bisa digunakan untuk mengecualikan kata-kata tertentu dalam pencarian. Misal kita ingin mencari kata “linus tanpa linux”, kita bisa menggunakan “linus -linux”

- *: Google tidak mendukung pencarian * sebagai pengganti huruf.
Misalkan kita ingin mencari dengan kata depan menja*
Google tidak mencari kata “menjamu”, “menjadi”, “menjalar”, dll
Google akan menghasilkan pencarian hanya yang mengandung kata “menja”.

Tetapi google mendukung penggunaan * dalam pencarian kalimat.
Keyword: “menjadi * hacker”
Hasilnya pencarian dapat menghasilkan “menjadi seorang hacker”, “menjadi white hacker”, dll.

- “”: Dapat digunakan untuk mencari kata yg lengkap.
Keyword: “menjadi hacker”
Hasilnya pencarian akan mengandung kata “menjadi hacker”

- ?: Dapat digunakan untuk mencari pada direktori Google
Keyword: ?intitle:index.of? mp3

— 02 // Operator Spesial ———————————————–

– Contoh hasil pencarian –

Google –> Judul
… Language Tools. Ways to help with tsunami relief \ Advertising Programs - About Google ©2005 Google - > Deskripsi
Searching 8,058,044,651 web pages. /
www.google.com/ - 3k - 5 Jan 2005 –> URL

– Contoh hasil pencarian –

- intitle: Untuk mencari kata-kata dari judul suatu halaman web.
Keyword: intitle:Admin Administrasi
Keyword tersebut akan mencari judul halaman “Admin” dengan
deskripsi “Administrasi”

- allintitle: Untuk mencari kata-kata dari judul halaman web secara lengkap.
Keyword: allintitle:Admin Administrasi
Keyword tersebut akan mencari judul halaman yang mengandung
kata “Admin” dan “Administrasi”

- inurl: Digunakan untuk mencari semua URL yang berisi kata-kata tertentu.
Keyword: inurl:Admin Administrasi
Keyword tersebut akan mencari URL yang mengandung kata “Admin”
dengan deskripsi “Administrasi”

- allinurl: Digunakan untuk mencari semua URL yang berisi kata-kata tertentu.
Keyword: allinurl:Admin Administrasi
Keyword tersebut akan mencari URL yang mengandung kata “Admin” dan “Administrasi”

- site: Untuk mencari dalam suatu situs tertentu saja
Keyword: site:echo.or.id
Semua pencarian hanya berdasarkan site “echo.or.id”

- cache: Ketika Googlebot mengindeks suatu situs, google akan mengambil snapshot dari semua halaman yang telah terindeks. Operator ini membantu melihat halaman-halaman yang telah dicache.
Keyword: cache:echo.or.id
Misalkan site aslinya sudah tidak aktif, anda tetap dapat melihatnya pada snapshot/cache yang disimpan oleh Google.

- define: Operator ini digunakan untuk mencari definisi dari frasa tertentu. Semua kata yang diketik setelah operator ini akan diperlakukan sebagai satu frasa.
Keyword: define:hacker

- filetype: Jika kita mencari jenis file tertentu yang berisi informasi yang anda inginkan kita bisa menggunakan operator ini.
Keyword: “hacker” filetype:pdf
Sampai tulisan ini dibuat google support tipe file
# Adobe Portable Document Format (pdf)
# Adobe PostScript (ps)
# Lotus 1-2-3 (wk1, wk2, wk3, wk4, wk5, wki, wks, wku)
# Lotus WordPro (lwp)
# MacWrite (mw)
# Microsoft Excel (xls)
# Microsoft PowerPoint (ppt)
# Microsoft Word (doc)
# Microsoft Works (wks, wps, wdb)
# Microsoft Write (wri)
# Rich Text Format (rtf)
# Shockwave Flash (swf)
# Text (ans, txt)
Ref: http://www.google.com/help/faq_filetypes.html

- link: Untuk mencari tahu berapa banyak link ke suatu situs, kita bisa menggunakan operator link.
Keyword: link:www.google.com

- related: Untuk mencari halaman yang isinya mirip dengan URL tertentu.
Keyword: related:www.google.com

— 03 // Manipulasi URL Google ——————————————

> And bisa mengganti interface google dengan mengganti variabel hl
(default google hl=en => bahasa inggris)
Misalkan kita mengubah interface-nya menjadi bahasa Indonesia.
Ex:
http://www.google.com/search?hl=en&lr=&q=site%3Aecho.or.id&btnG=Search
Hasil modifikasi URL
http://www.google.com/search?hl=id&lr=&q=site%3Aecho.or.id&btnG=Search

> Anda dapat mengganti hasil pencarian hanya pada bahasa tertentu. Hal ini dilakukan dengan modifikasi variabel lr.
(default google lr=lang_en => bahasa inggris)
Misalkan kita hasil pencarian hanya bahasa Indonesia.
Ex:
http://www.google.com/search?hl=en&lr=&q=site%3Aecho.or.id&btnG=Search
Hasil modifikasi URL
http://www.google.com/search?hl=en&lr=lang_id&q=site%3Aecho.or.id&btnG=Search

> Secara default google akan menampilkan 10 site perhalaman. Anda dapat mengubahnya secara langsung melalui URL-nya, dengan menambahkan variabel num pada URL Penggunaan num antara 1-100
Ex:
http://www.google.com/search?hl=en&lr=&q=site%3Aecho.or.id&btnG=Search
Hasil modifikasi URL
http://www.google.com/search?num=100&hl=en&lr=&q=site%3Aecho.or.id&btnG=Search

> as_qdr=mx: merupakan variabel lainnya yang dapat digunakan. Variabel ini digunakan menentukan hasil berdasarkan bulan. x antara 1-12
Ex:
http://www.google.com/search?hl=en&lr=&q=site%3Aecho.or.id&btnG=Search
Hasil modifikasi URL
http://www.google.com/search?hl=en&lr=&as_qdr=m1&q=site%3Aecho.or.id&btnG=Search

> safe=off: arti dari variabel ini filter “SafeSearch” dimatikan. “SafeSearch” untuk memfilter hasil pencarian sexual.

Dengan pengetahuan di atas anda dapat membuat sendiri form Google di komputer sendiri. Sehingga tidak perlu lagi mengunjungi http://www.google.com terlebih dahulu (kecuali anda menggunakan brwoser yang support google secara built-in atau menggunakan Google Toolbar). Dengan melakukan ini kita bisa menghemat bandwidth ke luar negeri Karena bandwidth di Indonesia mahal ……..

— EOF google.html —

Google masih terus dikembangkan. Untuk melihat apa yang sedang dikembangkan Google. Anda bisa ke http://labs.google.com

— 04 // Tips & Tricks ————————————————–

Dari dasar-dasar dan spesial operator tersebut anda bisa mencampurkan operator-operator tersebut.

Ex:
- Keyword: site:echo.or.id, menghasilkan semua site echo.or.id. Kemudian anda bisa mencoba keyword: site:echo.or.id hacker, akan menghasilkan semua site echo.or.id yang mengandung kata hacker.

Kita juga dapat melakukan pencarian secara spesifik melalui google.
Untuk melakukannya anda dapat ke site berikut:
- http://www.google.com/bsd
- http://www.google.com/mac
- http://www.google.com/linux
- http://www.google.com/microsoft
- http://www.google.com/univ/education

Berbagai trik keyword pada Google:
parent directory books -xxx -html -htm -php -shtml -opendivx -md5 -md5sums
parent directory /appz/ -xxx -html -htm -php -shtml -opendivx -md5 -md5sums
parent directory DVDRip -xxx -html -htm -php -shtml -opendivx -md5 -md5sums
parent directory video -xxx -html -htm -php -shtml -opendivx -md5 -md5sums
parent directory Gamez -xxx -html -htm -php -shtml -opendivx -md5 -md5sums
parent directory MP3 -xxx -html -htm -php -shtml -opendivx -md5 -md5sums

intitle:index of intitle:mp3 -html -htm name size
intitle:index of intitle:video -html -htm name size
intitle:index of intitle:cgi-bin passwd -html -htm name size
intitle:index of intitle:cgi-bin password -html -htm name size

inurl:”admin.mdb” -html
inurl:”password.mdb” -html
inurl:”data.mdb” -html
“phpMyAdmin” “running on” inurl:”main.php”
intitle:”PHP Shell” “Enable stderr” php

Masih banyak lagi keyword yang bisa ditemukan disini [5]

— 05 // Referensi ——————————————————

[1] http://www.google.com/help/basics.html
[2] http://www.google.com/help/features.html
[3] http://www.google.com/help/refinesearch.html
[4] http://www.google.com/help/interpret.html
[5] http://johnny.ihackstuff.com/
[6] O’Reilly - Google Hacks

{ Penulis : sumber dari Internet }
Selengkapnya...

Selasa, Maret 17, 2009

Pertanyaan

Oleh amza

Ada beberapa pertanyaan, "Apakah saya sudah 'berjalan'? Apakah saya dalam pertaubatan?" butuh waktu yang tidak sedikit bagi saya untuk merenungi-nya, ketika mulai ingatan dimasa kecil dulu, dengan memory ingatan yang samar-samar karena sudah lama terlupakan, ketika masih dalam buaian Ibu, dalam asuhan nenek dan keluarga lain...ketika masih kecil bermain bersama teman... ya saya masih mengingat sebagian masa itu...SubhanAllah, beranjak pada saat disekolah kemudian kuliah, setelah selesai kuliah sekarang bekerja, kemudian kemana sebenarnya arah yang dituju?dan apakah saya sudah 'berjalan'?

Seorang pejalan yang berjalan(kembali kepada Allah), sungguh Allah akan menggelar karpet merah sebagai jalan menuju-Nya, dengan berupa ujian dan pahit-nya dunia. Sungguh tidak mudah untuk bisa 'berjalan' kecuali yang dimudahkan oleh Allah, “…dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (untukmu).” (Q. S. An-Nahl [16] : 69)
Kadang kehidupan ini seperti tidak ada hambatan, berjalan lancar-lancar saja, setiap rencana yang dibuat terlaksana, segala yang di inginkan bisa terpenuhi tapi sebaliknya terkadang kita juga menemukan hambatan hidup berupa masalah, kekurangan, rencana/cita-cita yang tidak sesuai dengan harapan, itu semua adalah ujian. Bersyukurkah ketika mendapat kenikmatan? dan bersabarkah ketika ditimpa kesempitan?
Ada sebuah hadits qudsi, dimana kepahitan dunia yang menimpa adalah bukti kasih sayang dan cinta Allah.
"Wahai dunia! pahitkanlah kehidupan para kekasih-Ku, janganlah sekali-kali engkau memaniskannya, kelak engkau akan memfitnahinya". Mudah-mudahan ketika datang tamu kesulitan atau kelapangan maka dengan itulah kita berjalan menuju Allah, yaitu jalan taubat, dimana seseorang yang bertaubat ialah yang melandaskan sepenuhnya dan berhukum kepada Al Quran dan Al Hadits.
kembali lagi ke pertanyaan "Apakah saya sudah 'berjalan'? Apakah saya dalam pertaubatan?"
Satu lagi pertanyaan, bagaimanakah mengukur kedekatan Allah?
Dari Abu Hurairah ra.
Bersabda Rasulullah SAW : "Berfirman Allah Yang Maha Agung; Aku berada dalam sangkaan hamba-Ku tentang Aku dan Aku bersamanya ketika ia menyebut Aku. Bila menyebut Aku dalam dirinya, Aku menyebut dia dalam Diri-Ku. Bila ia menyebut Aku dalam khalayak, Aku menyebut dia dalam khalayak yang lebih baik dari itu. Bila ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, Aku mendekat kepadanya satu hasta. Bila ia mendekat kepada-Ku satu hasta, Aku mendekat kepadanya satu depa. Bila ia datang depada-Ku berjalan kaki, Aku datang kepadanya berlari-lari" [HR Bukhari, Muslim, Ibn Majah, At-Tirmidzi, Ibn Hanbal]

Semua pertanyaan diatas hanya bisa ditemukan jawabannya dalam kehidupan. Let Allah be our destination!

Selengkapnya...

Rabu, Maret 11, 2009

Nasihat Imam Al-Ghazali kepada anaknya


Wahai Anakku, simaklah bagian dari nasihat Rosulullaah Saw ini:

“Tanda-tanda kebencian Allaah terhadap seseorang ialah, apabila ia menyia-nyiakan waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Apabila umur seseorang berlalu, tetapi ia tidak menggunakannya untuk melakukan ibadah yang diperintahkan Allaah, maka pantas baginya menyesal sepanjang masa. Barang siapa yang telah berumur lebih empat puluh tahun sedangkan amalnya belum mengalahkan kemaksiatannya, maka hendaklah ia bersiaga masuk ke neraka.”

“Perhitungkanlah dirimu sebelum amalmu diperhitungkan. Dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang di hari kiamat kelak.”

Kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a:

“Barang siapa berprasangka bahwa tanpa bersusah payah ia dapat mencapai surga, maka ia bagaikan mimpi di siang bolong. Barang siapa berprasangka bahwa semata-mata dengan menggunakan kecakapan dan kekuatan ia dapat mencapai sesuatu, maka berarti ia sudah tidak membutuhkan Allah.”

Rasulullaah Saw bersabda:

“Orang pandai ialah orang yang mengetahui dirinya, dan beramal untuk bekal sesudah mati. Dan orang yang bodoh ialah orang yang memperturutkan kehendak hawa nafsunya dan selalu berangan-angan kosong terhadap kemurahan Tuhan.”

Wahai Anakku,
Ada empat perkara yang harus dipenuhi bila kamu ingin mencapai keutamaan, yaitu:
1. Itikad yang benar, yang tidak dicampur dengan bid’ah
2. Tobat yang sungguh-sungguh, dengan mengunci mati semua kemungkinan kemaksiatan
3. Meminta keridlo’an semua lawan dan musuh, sehingga tidak ada lagi beban yang ditanggung terhadap hak-hak orang lain.
4. Mempelajari ilmu dunia dengan tujuan hanya untuk memperlancar perintah Allaah, dan mempelajari ilmu akhirat yang dapat menyelamatkan dirimu dari mara bahaya dan siksa api neraka

Sybli berkata, “Aku telah membaca dan menelaah empat ribu hadits. Sesudah itu, aku pilih satu hadits saja untuk diamalkan. Yang selebihnya aku tinggalkan. Sebab setelah kupertimbangkan, keselamatanku berada dalam kandungan satu hadits itu. Ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang sekarang pun terkandung di dalamnya. Maka rasanya cukuplah bagiku mengamalkan hadits itu.

Hadits yang dimaksud oleh Sybli ialah ketika Rosulullaah Saw bersabda, yang artinya:”Beramallah untuk duniamu menurut kadar hidup kamu di dalamnya. Beramallah untuk akhiratmu menurut kadar kamu kekal di dalamnya. Dan beramallah untuk Allaah sesuai dengan kebutuhanmu kepada-Nya. Serta beramallah untuk neraka hidup kamu sasuai dengan kemampuanya menerima siksa.”

Wahai Anakku,
Jika kamu menghayati kandungan hadits di atas, tentu dirimu tidak lagi membutuhkan lagi ilmu pengetahuan yang bertumpuk. Dan renungkanlah sebuah hikayat berikut di bawah ini.

Hatim al- Asham adalah satu diantara murid dan sahabat Syaqiq al-Balkhi. Pada suatu ketika, Syaqiq bertanya kepada Hatim, “Wahai Hatim, sudah tiga puluh tahun saya mengajari engkau dan kita juga bersahabat. Apa yang telah engkau peroleh selama ini?”

Hatim menjawab, “Telah aku peroleh delapan ilmu pengetahuan yag sangat berfaedah. Inilah yang mencukupi diriku untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Aku berharap keselamatan dan kebahagiaan itu berada di dalamnya.”

Syaqiqi bertanya, “Apa itu ya sahabatku?” Maka Haltim menjawab:

Pertama,

Aku puas mengamati berbagai macam makhluk. Aku lihat mereka masing-masing mempunyai kekasih sebagai tambatan hatinya. Sebagian dari mereka, ada yang didampingi kekasihnya hanya sampai menjelang ajal/kematiannya. Ada juga yang mendampingi sampai ke liang kuburnya. Namun sesudah itu, semuanya kembali meninggalkannya sendiri di kuburan. Tidak seorang pun yang bersedia menemaninya masuk ke liang kubur.

Setelah melihat kejadian itu, terbersitlah dalam pikiranku: “Kekasih yang paling utama ialah yang menyertai seseorang masuk ke liang kubur dan memberikan hiburan di dalamnya. Hal ini hanya aku temui dalam amal shalih. Oleh karena itu, amal shalih aku jadikan sebagai kekasih, agar kelak bisa menjadi pelita dalam kuburku, menghibur dan tidak meninggalkanku seorang diri.”

Kedua,

Aku lihat kebanyakan manusia hanya mengikuti dan memperturutkan kehendak hawa nafsunya saja untuk memenuhi segala keinginannya. Terhadap hal ini, aku camkan firman Allaah Swt yang mengatakan:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Robnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (Q. S. An- Naaziaat: 40-41)

Aku yakin, al-Qur’an pasti benar. Oleh karena itu, aku bersegera melawan kehendak hawa nafsuku. Aku bersedia berjihad mengendalikan hawa nafsuku. Aku berusaha menolak segala keinginanku yang liar sampai tunduk menyerah dan berlutut ta’at kepada Allaah Swt.

Ketiga

Aku lihat setiap orang membanting tulang untuk memperoleh dan menumpuk harta kekayaan dunia. Mereka membelanjakannya dengan hemat, bahkan amat kikir. Maka aku lantunkan pkiran dan hatiku pada firman Allaah Swt yang artinya:

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang di sisi Allaah adalah kekal” (QS. An-Nahl: 96)

Oleh karena itu, aku segera keluarkan harta simpananku selama ini untuk mencari ridla Allah. Aku sedekahkan kepada fakir miskin dan untuk jihad fii sabilillaah, agar kelak menjadi simpanan di sisi Allah Swt.

Keempat,

Aku melihat sebagian manusia mengira bahwa kemuliaan dan ketinggian derajatnya ditentukan oleh banyaknya kerabat dan keluarga. Mereka merasa megah dan bangga bila memiliki kerabat yang banyak.

Sebagian dari mereka ada pula yang beranggapan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat terletak pada banyaknya harta dan anak. Dengan kekayaan itu mereka menyombongkan diri. Sebagian yang lain berannggapan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat berada pada perilaku yang zalim, keserakahan, dan pertumpahan darah sesama manusia. Bahkan ada pula yang berkeyakinan bahwa kemuliaan dan ketinggian derajat /martabat terletak pada keborosan, pesta pora, dan menghambur-hamburkan harta benda.

Melihat itu, kurenungkan firman Allaah yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Oleh karena itu kupilih taqwa sebagai suatu kemuliaan dan ketinggian martabat. Aku yakin yang diketengahkan Qur’an itu sangatlah benar. Anggapan mereka yang beragam itu semua salah dan tidak beralasan.

Kelima,

Aku lihat manusia hidup saling mencela dan saling mengumpat. Kulihat pangkal semua itu adalah kedengkian dalam masalah harta, pengaruh, dan kepandaian.. Maka aku renungkan firman Allaah Swt dalam Surah Az-Zukhruf : 32, yang artinya:

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu? Kami telah menentukan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Robb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Juga dalam Qur’an surah Ali Imran ayat 26, yang artinya:

“...Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehandaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehandaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehandaki dan Engkau hinakan orang yag Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Oleh karena itu, aku mengerti bahwa pembagian rezeki dan kedudukan telah ditentukan Allaah sejak jaman azali. Karena itu, kubuang jauh-jauh sifat iri dengki dari hati. Kuterima dengan segala senang hati setiap pembagian dari Allaah Swt.

Keenam,

Kulihat manusia saling bermusuhan karena berbagai sebab dan tujuan. Maka kuhayati kembali firman Allaah Swt yang berbunyi:

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu. Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Fathir: 6)

Maka mengertilah aku, bahwa orang tidak layak memusuhi, kecuali terhadap setan. Itu berarti orang yang memusuhi orang lain telah terkena jaringan setan

Ketujuh,

Aku lihat setiap orang bekerja keras dan memeras tenaga untuk mencari makan dan kebutuhan hidup hingga terjatuh ke dalam kesyubhatan, terjerumus pada yang haram, dan mencemarkan nama baik dan martabatnya. Maka kurenungkan ma’na kalam Allaah yang artinya:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allaah-lah yang memberi rizqinya.” (QS. Huud: 6)

Maka aku mengerti bahwa rizqi itu berada pada kekuasaan Allaah semata. Masalah rizqi, Dia-lah yang menanggungnya. Karena itu, aku bangkit memelihara ibadah kepada-Nya dan kubuang jauh-jauh rasa loba dan tamak. Hanya kepada-Nya aku menyerahkan sepenuhnya masalah rizqi.

Kedelapan,

Aku sering melihat manusia menyandarkan nasib dan harapannya kepada sesamanya dan makhluk lainnya. Sebagian mereka ada yang menyandarkan kepada uang dan kebendaan. Ada pula yang bergantung kepada sesama manusia. Maka kembali kuperhatikan dengan sungguh-sungguh firman Allaah Swt, yang maksudnya:

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allaah, niscaya Allaah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allaah melaksanakan urusan yang dikehendaki- Nya. Sesungguhnya Allaah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. Ath-Thalaq: 3)

Oleh karena itu aku bertawakal kepada Allaah, sebab hanya itu yang dapat mencukupi segala kebutuhanku. Hanya Allaah-lah sebaik baik pelindung.

Setelah mendengar keterangan Hatim, maka Syaqiq berkata,”Semoga Allaah memberikan taufiq kepadamu, wahai muridku dan sahabatku. Aku telah menelaah kitab Taurat, Injil dan Zabur, serta Al-Qur’an. Semuanya memberikan keterangn seperti yang kamu katakan tadi. Orang yang mengamalkan perkara itu, berarti ia telah mengamalkan keempat kitab suci tersebut...”

dikutip dari facebook milis kajianihya... Terimakasih Kang Daani!
sumber: Imam Al-Ghozali dalam kitab “Risalah Ayyuhal Walad” (Kepada Anakku Dekati Tuhanmu)

Selengkapnya...

Selasa, Maret 10, 2009

[Hikmah Maulid Nabi] Mengenang Akhlak Nabi Muhammad SAW

oleh Ustadz KH. Nadirsyah Hosen*

A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim Bismillahirrahmanirrahim Allahumma salli 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wa sahbihi wasallim

Setelah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, "Ceritakan padaku akhlak Muhammad!". Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi.

Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, "Ceritakan padaku keindahan dunia ini!." Badui ini menjawab, "Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini...." Ali menjawab, "Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)"

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam yang sering disapa "Khumairah" oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur'an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur'an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur'an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur'an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu'minun [23]: 1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, "Ah semua perilakunya indah." Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. "Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, 'Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.'" Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, "Mengapa engkau tidur di sini?" Nabi Muhammmad menjawab, "Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu." Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mengingatkan, "berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya." Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pernah berkata, "Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain." Dalam riwayat lain disebutkan, "Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta'wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menjawab "ilmu pengetahuan."
Tentang Utsman, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. "Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya." "Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik."

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur'an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan "Wahai Nabi". Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: "Angkat Al-Qa'qa bin Ma'bad sebagai pemimpin." Kata Umar, "Tidak, angkatlah Al-Aqra' bin Habis." Abu Bakar berkata ke Umar, "Kamu hanya ingin membantah aku saja," Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud membantahmu." Keduanya berbantahan sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal- amal kamu dan kamu tidak menyadarinya" (QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, "Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia." Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi'ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, "Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami"

Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bertanya, "Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?" "Sudah." kata Utbah. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran bagaimana Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah. Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam? "Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu." Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana perilaku Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata pada para sahabat, "Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!" Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, "Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini." Para sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap "membereskan" orang itu. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam berkata, "Lakukanlah!"

Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dan memeluk Nabi seraya menangis, "Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah". Seketika itu juga terdengar ucapan, "Allahu Akbar" berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na'udzu billah.....

Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam ketika saat haji Wada', di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, "Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian ditanya nanti, apa jawaban kalian?" Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam melanjutkan, "Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah.....?" Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, "Benar ya Rasul!"

Rasul sallAllahu 'alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, "Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah!". Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. "Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah...Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah"

Catatan Kaki:
*)Nadirsyah Hosen Dewan Asaatiz Pesantren Virtual
Sumber: Swaramuslim

Selengkapnya...

Kamis, Maret 05, 2009

The Miracle of Love

With love,
Bitter become sweet
With love,
Turbidity become purify
With love,
Dead become life
With love,
King become slave.
From science, love can grow.
Have stupidity place people above throne like this?

Dengan cinta,
yang pahit menjadi manis.
Dengan cinta,
kekeruhan menjadi jernih.
Dengan cinta,
yang mati menjadi hidup.
Dengan cinta,
raja menjadi budak.
Dari ilmu, cinta dapat tumbuh.
Pernahkah kebodohan menempatkan orang di atas takhta begini?
(Jalaluddin Rumi)
Selengkapnya...

Selasa, Maret 03, 2009

Pendapat Orang Barat Tentang Rasulullah

1. Seorang orientalis Kanada, Dr. Zuwaimer di dalam bukunya “Timur dan Tradisinya” mengatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa Muhammad adalah termasuk pemimpin agama terbesar. Bisa juga dikatakan bahwa dia adalah seorang reformis, mumpuni, fasih, pemberani dan pemikir yang agung. Tidak boleh kita menyebutnya dengan apa yang bertentangan dengan sifat-sifat ini. Al-Qur’an yang datang bersama Muhammad dan sejarahnya menjadi saksi atas kebenaran klaim ini.”

2. Seorang Orientalis Jerman Bretly Hiler di dalam bukunya “Orang-Orang Timur dan Keyakinan-keyakinan Mereka” mengatakan, “Muhammad adalah seorang kepala negara dan punya perhatian besar pada kehidupan rakyat dan kebebasannya. Dia menghukum orang-orang yang melakukan pidana sesuai dengan kondisi zamannya dan sesuai dengan situasi kelompok-kelompok buas di mana Nabi hidup di antara mereka. Nabi ini adalah seorang penyeru kepada agama Tuhan Yang Esa. Di dalam dakwahnya, dia menggunakan cara yang lembut dan santun meskipun dengan musuh-musuhnya. Pada kepribadiaannya ada dua sifat yang paling utama dimiliki oleh jiwa manusia. Keduanya adalah “keadilan dan kasih sayang”.

3. Bernardesho seorang pemikir Inggris di dalam bukunya “Muhammad” mengatakan, “Dunia ini sangat membutuhkan pemikiran Muhammad. Nabi inilah yang meletakan agamanya senantiasa dalam posisi terhormat dan tinggi, agama yang paling kuat di dalam mencerna seluruh peradaban dan kekal sepanjang masa. Saya melihat banyak dari anak keturunan bangsaku yang masuk agama ini dengan bukti nyata. Agama ini akan mendapatkan kesempatan yang luas di benua ini – maksudnya adalah Eropa. Bahwa para tokoh agama pada abad pertengahan, akibat dari kebodohan dan fanatisme, telah menggambarkan agama Muhammad dengan gambaran yang gelap. Mereka menyebut agama Muhammad sebagai musuh bagi Kristen. Namun setelah saya mengkaji tentang orang ini (Muhammad), saya menemukan kekaguman yang luar biasa. Saya sampai pada kesimpulan bahwa dia bukan musuh bagi Kristen. Namun sebaliknya harus disebut penyelamat manusia. Dalam pandangan saya, sekiranya dia memegang kendali dunia pada hari ini pastilah dia bisa menyelesaiakan masalah kita yang dapat menjamin perdamaian dan kebahagiaan yang menjadi harapan manusia.

4. Professor bahasa Aramaic, Snersten Elasogi di dalam bukunya “Sejarah Hidup Muhammad” mengatakan, “Sungguh kita tidak netral pada Muhammad kalau kita mengingkari apa yang ada pada dirinya, berupa sifat-sifat yang agung dan keistimewaan-keistimewaannya. Muhammad telah terjun di dalam perang kehidupan yang besar menghadapi kebodohan dan kesemrawutan, tetap teguh pada prinsipnya. Dia terus memerangi tindakan yang melampaui batas sampai berakhir pada kemenangan yang nyata. Sehingga syariatnya menjadi syariat yang paling sempurna, dia di atas para tokoh agung sejarah.”

5. Seorang orientalis Amerika Sneks di dalam bukunya “Agama Arab” mengatakan, “Muhammad muncul 570 tahun setelah Isa. Tugasnya adalah untuk meningkatkan akal manusia dengan memberinya dasar-dasar utama dan akhlak yang mulia, mengembalikan kepada keyakinan Tuhan yang Esa dan kehidupan setelah kematian.”

6. Michael Hart di dalam bukunya “Seratus Tokoh dalam Sejarah” mengatakan, “Pilihan saya Muhammad menjadi orang pertama yang terpenting dan teragung sebagai tokoh sejarah telah mengagetkan para pembaca. Namun dia (Muhammad) adalah satu-satunya tokoh dalam semua sejarah yang sukses dengan kesuksesan sangat tinggi pada tingkat Agama dan Dunia. Ada banyak rasul, nabi dan para pemimpin yang memulai dengan misi-misi agung. Namun mereka meninggal tanpa penyempurnaan misi-misi tersebut, seperti Isa di Kristen, atau yang lain telah mendahului mereka, seperti Musa di Yahudi. Namun Muhammad adalah satu-satunya (Rasul) yang menyempurnakan misi agamanya, menetapkan hukum-hukumnya dan diimani oleh bangsa-bangsa selama hidupnya. Karena dia mendirikan negara baru di sisi agama. Sedang di bidang dunia dia juga menyatukan kabilah-kabilah di dalam bangsa, menyatukan bangsa-bangsa di dalam umat, meletakan buat mereka semua asas kehidupannya, menggariskan masalah-masalah dunianya, meletakannya pada titik tolak menuju dunia. Dan juga di dalam hidupnya, dia adalah (Rasul) yang memulai risalah agama serta dunia dan menyempurnakannya.

7. Seorang sastrawan dunia, Lev Tolstewi, yang karya sastranya dianggap sebagai sastra yang paling bernilai tercatat dalam peninggalan kemanusiaan. Dia mengatakan, “Cukuplah Muhammad sebagai kebanggaan karena dia telah membebaskan umat hina yang haus darah dari cakar-cakar setan tradisi yang tercela. Membuka di depan muka mereka jalan yang tinggi dan maju. Bahwa syariat Muhammad akan menguasai dunia karena kesesuaiannya dengan akal dan kebijaksanaan.

8. Dr. Shaberk asal Austria mengatakan, “Sesungguhnya manusia pasti bangga memiliki afiliasi dengan tokoh seperti Muhammad. Dia itu meski dengan keumiannya (tidak bisa baca dan tulis) beberapa belas abad yang lalu mampu membuat undang-undang. Kita orang Eropa akan menjadi sangat bahagia apabila bisa sampai ke puncaknya.”

9. Seorang Filsuf Inggris yang penah mendapatkan hadiah Nobel, Tomas Karlil di dalam bukunya “Para Pahlawan” mengatakan, “Sungguh menjadi sangat aib bagi siapapun yang berbicara pada masa ini mengeluarkan ungkapan bahwa agama Islam adalah kedustaan dan bahwa Muhammad adalah penipu. Kita harus memerangi penyebaran kata-kata yang absurd dan memalukan ini. Sesungguhnya risalah yang ditunaikan utusan (Rasul) tersebut masih menjadi pelita yang bercahaya selama 12 abad lamanya. Apakah ada di antara kalian yang mengira bahwa risalah ini yang menjadi pegangan hidup dan matinya jutaan orang yang tak terhitung jumlahnya adalah kedustaan dan penipuan.”

10. Sedang seorang Sastrawan Jerman Gotah mengatakan, “Sesungguhnya kita warga Eropa dengan seluruh pemahaman kita, belum sampai kepada apa yang telah dicapai Muhammad. Dan tidak akan ada yang melebihi dirinya. Saya telah mengkaji dalam sejarah tentang keteladanan yang tinggi untuk umat manusia ini. Dan saya temukan itu pada Nabi Muhammad. Demikianlah seharusnya kebenaran itu menang dan tinggi, sebagaimana Muhammad telah sukses menundukkan dunia dengan kalimat tauhid.”

SubhanAllah, seyogyanya kita patut untuk menjadikannya sebagai "uswatun hasanah" contoh suriteladan bagi kita semua yang mengaku sebagai ummat Rasulullah saw.
Selengkapnya...

Senin, Maret 02, 2009

Pupuh

Eling eling mangka eling,
rumingkang di bumi alam,
darma wawayangan bae,
raga taya pangawasa,
lamun kasasar lampah,
nafs nu matak kaduhung,
badan anu katempuhan.


Selengkapnya...

Rabu, Februari 25, 2009

Mengenal Diri

[TANYA] bersuluk, bermakna keberserahdirian. namun apakah yang dilakukan/dikerjakan oleh orang2 yg bersuluk? amalannya? dimana? caranya? kenapa? dan mengapa? (Nurhidayah)

[JAWAB] Bersuluk sebenarnya tidak tepat jika dikatakan bermakna keberserahdirian. ‘Islam’ (aslama)-lah yang artinya ‘berserah diri’. ‘Islam’, adalah keberserahdirian dalam ketaatan dan pengabdian sejati kepada Allah.

Bersuluk, artinya ‘menempuh jalan’. Jalan yang dimaksud adalah ‘jalan kembali kepada Allah’, yaitu ‘jalan taubat’ (ingat asal kata ‘taubat’ adalah ‘taaba’, artinya ‘kembali’), atau jalan ad-diin. ‘Suluk’ secara harfiah berarti ‘menempuh’, (Sin - Lam - Kaf) asalnya dari Q.S. An-Nahl [16] : 69, “Fasluki subula Rabbiki zululan,”
“…dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (untukmu).” (Q. S. An-Nahl [16] : 69)

‘Menempuh jalan suluk’ berarti memasuki sebuah disiplin selama seumur hidup untuk menyucikan qalb dan membebaskan nafs (jiwa) dari dominasi jasadiyah dan keduniawian, dibawah bimbingan seorang mursyid sejati (yang telah meraih pengenalan akan diri sejatinya dan Rabb-nya, dan telah diangkat oleh Allah sebagai seorang mursyid bagi para pencari-Nya), untuk mengendalikan hawa nafsu, membersihkan qalb, juga belajar Al-Qur’an dan belajar agama, hingga ke tingkat hakikat dan makna. Dengan bersuluk, seseorang mencoba untuk beragama dengan lebih dalam daripada melaksanakan syari’at saja tanpa berusaha memahami. Orang yang memasuki disiplin jalan suluk, disebut salik (bermakna ‘pejalan’).

Ber-suluk adalah menjalankan agama sebagaimana awal mulanya, yaitu beragama dalam ketiga aspeknya, ‘Iman’ - ‘Islam’ - ‘Ihsan’ (tauhid - fiqh - tasawuf) sekaligus, sebagai satu kesatuan diin Al-Islam yang tidak terpisah-pisah. Secara sederhana, bisa dikatakan bahwa bersuluk adalah ber-thariqah, walaupun tidak selalu demikian.

Yang dilakukan, adalah setiap saat berusaha untuk menjaga dan menghadapkan qalb nya kepada Allah, tanpa pernah berhenti sesaat pun, sambil melaksanakan syari’at Islam sebagaimana yang dibawa Rasulullah saw. Amalannya adalah ibadah wajib dan sunnah sebaik-baiknya, dalam konteks sebaik-baiknya secara lahiriah maupun secara batiniah. Selain itu ada pula amalan-amalan sunnah tambahan, bergantung pada apa yang paling sesuai bagi diri seorang salik untuk mengendalikan sifat jasadiyah dirinya, mengobati jiwanya, membersihkan qalbnya, dan untuk lebih mendekat kepada Allah.

“Tidak ada cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhu-kan kepadanya. Namun hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil, sehingga Aku pun mencintainya. Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) pengelihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.” (Hadits Qudsi riwayat Bukhari).

Dasar segala amalan adalah Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah, demikian pula amalan-amalan dalam suluk. Suluk tidak mengajarkan untuk meninggalkan syariat pada level tertentu. Syariat (bahkan hingga hakikat dari pelaksanaan syariat) tuntunan Rasulullah wajib dipahami dan dilaksanakan oleh seorang salik, hingga nafasnya yang penghabisan.

Dimana? Dimana pun, kapan pun. Setiap saat, selama hidup hingga nafas terakhir kelak. Kenapa? Karena sebagian orang ingin memahami makna hidup, makna Al-Qur’an, ingin hidup tertuntun dan senantiasa ada dalam bimbingan Allah setiap saat. Sebagian orang ingin memahami agama, bukan sekedar menghafal dalil-dalil beragama.

Jadi, bersuluk kurang lebih adalah ber-Islam dengan sebaik-baiknya dalam sikap lahir maupun batin, termasuk berusaha memahami kenapa seseorang harus berserah diri (ber-Islam), mengetahui makna ‘berserah diri kepada Allah’ (bukan ‘pasrah’), dalam rangka berusaha mengetahui fungsi spesifik dirinya bagi Allah, untuk apa ia diciptakan-Nya.

Dengan mengetahui fungsi spesifik kita masing-masing, maka kita mulai melaksanakan ibadah (pengabdian) yang sesungguhnya. Sebagai contoh, shalatnya seekor burung ada di dalam bentuk membuka sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan ada di dalam kondisi saat ia berenang di dalam air. Masing-masing kita pun memiliki cara pengabdian yang spesifik, jika kita berhasil menemukan fungsi untuk apa kita diciptakan-Nya.

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya ber-tasbih kepada Allah siapa pun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalat-nya dan cara tasbih-nya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Q. S. An-Nuur [24] : 41)

Inilah ibadah (pengabdian) yang sejati: beribadah dengan cara melaksanakan pengabdian pada Allah dengan menjalankan fungsi spesifik diri kita, sesuai dengan untuk apa kita diciptakan-Nya sejak awal. Fungsi diri yang spesifik inilah yang disebut dengan ‘misi hidup’ atau ‘tugas kelahiran’, untuk apa kita diciptakan.

Sebagaimana sabda Rasulullah:

Dari Imran ra, saya bertanya, “Ya Rasulullah, apa dasarnya amal orang yang beramal?” Rasulullah saw. menjawab, “Tiap-tiap diri dimudahkan mengerjakan sebagaimana dia telah diciptakan untuk (amal) itu.” (H. R. Bukhari no. 2026).

Juga,

“…(Ya Rasulullah) apakah gunanya amal orang-orang yang beramal?” Beliau saw. menjawab, “Tiap-tiap diri bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.”(H. R. Bukhari no. 1777).

Tiap-tiap diri. Setiap orang. Spesifik. Masing-masing memiliki suatu alasan penciptaan, sebuah tugas khusus, sebuah amanah ilahiyah. Ketika seseorang menemukan tugas dirinya, Allah akan memudahkan dirinya beramal dalam pengabdian sejati berupa pelaksanaan akan tugas itu. Ia akan menjadi yang terbaik dalam bidang tugasnya tersebut. Jalan ‘yang dimudahkan kepadanya’ inilah jalan pengabdian yang sesuai misi hidup, sesuai untuk apa kita diciptakan Allah, sebagaimana Q. S. 16 : 69 tadi, “… tempuhlan jalan Rabb-mu yang dimudahkan (bagimu).”

Agama-agama timur mengistilahkan hal ini dengan kata ‘dharma’. Para wali songgo di Jawa zaman dahulu memberi istilah ‘kodrat diri’ atau kadar diri, sesuai istilah dalam Qur’an. Ada juga yang menyebutnya dengan ‘jati diri’.

Segala sesuatu diciptakan Allah dengan ketetapan, dengan tugas, dengan ukuran fungsi spesifik tertentu. Demikian pula kita masing-masing, dan berbeda untuk tiap-tiap orang. Al-Qur’an mengistilahkan hal ini dengan qadar. “Inna kulli syay’in khalaqnaahu bi qadr.”

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadr.” (Q. S. Al-Qamar [54] : 49)

Kita, karena ke-Mahapenciptaan Allah, mustahil diciptakan-Nya secara ‘murahan’ dan ‘tidak kreatif’ sebagai sebuah produk massal. Kita sama sekali bukan mass-product, karya generik. Masing-masing kita dirancang Allah secara spesifik, tailor-made orang-per-orang, dengan segala kombinasi kekuatan dan kelemahan yang diukur dengan presisi oleh tangan-Nya sendiri.

Masing-masing kita diciptakan-Nya dengan dirancang untuk memiliki sekian kombinasi ‘kadar’ keunggulan pada sisi tertentu dan kelemahan pada sisi lainnya, demi kesesuaian untuk melaksanakan sebuah tugas, demi melaksanakan sebuah misi.

Menemukan ‘misi hidup’ adalah menemukan qadr diri kita sendiri sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas, sehingga kita memahami untuk (fungsi) apa kita diciptakan. Kita menemukan qudrah Allah yang ada dalam diri kita sendiri. Inilah maksudnya ‘mengenal diri’ dalam hadits “man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu.”.

“Siapa yang mengenal jiwa (nafs)-nya, akan mengenal Rabb-nya.”

Tentu saja, dengan mengenal jiwa (nafs) otomatis juga mengenal Rabb, karena pengetahuan tentang fungsi dan kesejatian diri kita hanya bisa turun langsung dari sisi Allah ta’ala dan bukan dikira-kira oleh kita sendiri. Turunnya pengetahuan sejati (’ilm) tentang ini bukan kepada jasad maupun kepada otak di jasad kita ini; melainkan hanya kepada jiwa (nafs), diri kita yang sesungguhnya. Dalam jiwa (nafs) kitalah tersimpan pengetahuan tentang diri dan pengetahuan tentang Allah, karena nafs-lah yang dahulu mempersaksikan Allah dan berbicara dengan-Nya, sebagaimana diabadikan oleh Al-Qur’an di surat Al-A’raaf [7] : 172;


“Dan (ingatlah), ketika Rabb-mu mengeluarkan dari bani Adam, dari punggung mereka, keturunan-keturunan mereka, dan mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa (nafs-nafs; anfus) mereka (seraya berkata): ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu.’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami bersaksi’….” (Q. S. [7] : 172)

Ketika kita mengenal jiwa (nafs), kita mendapatkan pengetahuan tentang Allah, qudrah Allah dan qadr diri yang tersimpan dalam jiwa kita. Dengan demikian, kita pun mengenal Allah dan juga mengenal fungsi spesifik untuk apa kita diciptakan-Nya (mengenal diri). Dengan melaksanakan fungsi tersebut, maka kita pun melaksanakan pengabdian yang sejati kepada Allah sesuai tujuan-Nya menciptakan kita. Kita mulai mengabdi (ya’bud) di atas agama-Nya (Ad-Diin) dengan hakiki. Inilah maksud perkataan sahabat Ali r. a. yang termasyhur: “Awaluddiina Ma’rifatullah.”

“Awal Ad-Diin adalah mengenal Allah (ma’rifatullah)” (Sahabat Ali r. a.)

Demikianlah pengabdian (ibadah) yang hakiki. ‘Ibadah’ bukanlah sekedar puasa, shalat, zakat, dan semacamnya; melainkan jauh, jauh lebih dalam dari itu. ‘Ibadah’ berasal dari kata ‘abid, bermakna, ‘abdi’, ‘hamba’, atau ‘budak’. ‘Ibadah’ pada hakikatnya adalah sebuah pengabdian, atau penghambaan diri. Dan pengabdian yang hakiki adalah pengabdian dengan menjalankan tugas ilahiyah sesuai dengan keinginan-Nya, menurut kehendak-Nya, untuk fungsi apa Dia menciptakan kita.

Demikian pula, status ‘Abdullah’ (’abdi Allah/hamba Allah) maupun ‘Abdina’ (hamba Kami) adalah mereka yang sudah mengenali tugasnya dan sudah berfungsi sesuai dengan yang sebagaimana Allah kehendaki bagi dirinya. ‘Hamba Allah’ adalah sebuah status yang tinggi.

Sekarang, insya Allah kita jadi sedikit lebih memahami makna ‘dalam’ dari ayat tujuan penciptaan jin dan manusia, “wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun.”

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah mengabdi/menghamba (ya’bud) kepada-Ku.” (Q. S. Adz-Dzariyaat [51] : 56)

Demikian pula pada Q. S. Al-Faatihah [1] : 5,

“Kepada Engkau kami mengabdi/menghamba (‘na’bud’,* dari ‘abid,), dan kepada Engkau kami memohon pertolongan.” (Q. S. Al-Faatihah [1] : 5)

Semoga kelak kita diizinkan Allah mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki, dengan dijadikan Allah termasuk ke dalam golongan ‘Abdullah’.

Oleh Herry Mardian. Dikutip dari sini
Selengkapnya...

Selasa, Februari 24, 2009

Perlukah Cinta Melandasi Sebuah Pernikahan?

Oleh Kuswandani. Dikutip dari sini

Berbicara tentang cinta, tentu kita akan berhadapan dengan jutaan pemaknaan yang sangat beragam. Dan berbicara tentang cinta, maka setiap diri pun akan memiliki keragaman cara pandang. Setiap orang memiliki subjektivitas masing-masing dalam menilai konsep cinta, baik itu ditinjau dari sudut pandang agama, psikologi, sudut pandang seorang remaja yang baru mengenalnya bahkan setiap orang di peradaban mana pun tentu akan melihat dengan pandangan yang berbeda. Baik cinta yang mengandung nilai-nilai agama atau bahkan cinta bisa dijadikan sebagai kekuatan untuk penistaan agama. Atas nama cinta orang bisa berkorban bagi Tuhannya, bagi negaranya, bagi kelompoknya, bagi kekasihnya, dan bagi siapa pun yang dia telah menjadi tumpuannya. Persoalan kita sekarang adalah, apakah cinta itu sendiri? Dan mengapa dalam ajaran suci Nabi Muhammad Saw. ada sebagaian umatnya yang kemudian meyakini penuh bahwa landasan cinta menjadi prasyarat utama sebuah pernikahan. Menikah tanpa cinta –menurut mereka- yang akan diperoleh kelak adalah kehancuran demi kehancuran.

Apa sih sebenarnya hakikat cinta itu? Mari kita sejenak berguru kepada seorang Waliyullah abad modern yang hidup dan mengabdikan dirinya di Negeri Barat Amerika. MR. Bawa Muhayyadien menuturkan,

Seorang bijak berkata kepadaku, “Anakku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?” Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap wisdom yang menyemburat seperti cahaya.

Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu nanti, karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak. Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta.

Lihat batang bunga mawar itu. Dia punya potensi untuk mempersembahkan bunga merah dan harum yang semerbak. Namun jika batang itu tak pernah ditanam, tak akan pernah mawar itu menghiasi kebunmu. Maka, hanya dengan membuka diri untuk tumbuhnya akar dan daun lah, batang mawar itu akan melahirkan bunga mawar yang harum. Demikian juga dengan hatimu, anakku. Kau harus membukanya, agar potensi cinta yang terkandung di dalamnya bisa merekah, lalu menyinari dunia sekitarmu dengan kedamaian.

Anakku, begitu sering kau bicara cinta. Cinta kepada istri, cinta kepada anak, cinta kepada agama, cinta kepada bangsa, cinta kepada filosofi, cinta kepada rumah, cinta kepada kebenaran, cinta kepada Tuhan… Apakah isi atau esensi dari cintamu itu? Kau bilang itu cinta suci, cinta sejati, cinta yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, cinta sepenuh hati, cinta pertama, … Apakah benar begitu, anakku?

Mungkin di kampung kau punya seekor kuda. Begitu sayangnya kau pada kuda itu. Setiap hari kau beri makan, minum, kau rawat bulunya, kau bersihkan, kau ajak jalan-jalan. Seolah kuda itu telah menjadi bagian dari hidupmu, seperti saudaramu. Kau mencintai kuda itu sepenuh hati. Namun, suatu ketika datang orang yang ingin membelinya dengan harga yang fantastis. Hatimu goyah, dan kau pun menjualnya.

Cintamu tidak sepenuh hati, karena kau rela menjual cinta. Kau mencintai kuda, karena kegagahannya membuatmu bangga dan selalu senang ketika menungganginya. Namun, ketika datang harta yang lebih memberikan kesenangan, kau berpaling.

Kau cinta karena kau mengharapkan sesuatu dari yang kau cintai. Kau cinta kudamu, karena mengharapkan kegagahan. Cintamu berpaling kepada harta, karena kau mengharapkan kekayaan. Ketika keadaan berubah, berubah pula cintamu.

Kau sudah punya istri. Begitu besar cintamu kepadanya. Bahkan kau bilang, dia adalah pasangan sayapmu. Tak mampu kau terbang jika pasangan sayapmu sakit. Cintamu cinta sejati, sehidup semati. Namun, ketika kekasihmu sedang tak enak hati yang keseratus kali, kau enggan menghiburnya, kau biarkan dia dengan nestapanya karena sudah biasa.

Ketika dia sakit yang ke lima puluh kali, perhatianmu pun berkurang, tidak seperti ketika pertama kali kau bersamanya. Ketika dia berbuat salah yang ke sepuluh kali, kau pun menjadi mudah marah dan kesal. Tidak seperti pertama kali kau melihatnya, kau begitu pemaaf.

Dan kelak ketika dia sudah keriput kulitnya, akan kan kau cari pengganti dengan alasan dia tak mampu mendukung perjuanganmu lagi? Kalau begitu, maka cintamu cinta berpengharapan. Kau mencintainya, karena dia memberi kebahagiaan kepadamu. Kau mencintainya, karena dia mampu mendukungmu. Ketika semua berubah, berubah pula cintamu.

Kau punya sahabat. Begitu sayangnya kau kepadanya. Sejak kecil kau bermain bersamanya, dan hingga dewasa kau dan dia masih saling membantu, melebihi saudara. Kau pun menyatakan bahwa dia sahabat sejatimu. Begitu besar sayangmu kepadanya, tak bisa digantikan oleh harta. Namun suatu ketika dia mengambil jalan hidup yang berbeda dengan keyakinanmu.

Setengah mati kau berusaha menahannya. Namun dia terus melangkah, karena dia yakin itulah jalannya. Akhirnya, bekal keyakinan dan imanmu menyatakan bahwa dia bukan sahabatmu, bukan saudaramu lagi.

Dan perjalanan kalian sampai di situ. Kau mencintainya, karena dia mencintaimu, sejalan denganmu. Kau mendukungnya, mendoakannya, membelanya, mengunjunginya, karena dia seiman denganmu. Namun ketika dia berubah keyakinan, hilang sudah cintamu. Cintamu telah berubah.

Kau memegang teguh agamamu. Begitu besar cintamu kepada jalanmu. Kau beri makan fakir miskin, kau tolong anak yatim, tak pernah kau tinggalkan ibadahmu, dengan harapan kelak kau bisa bertemu Tuhanmu. Namun, suatu ketika orang lain menghina nabimu, dan kau pun marah dan membakar tanpa ampun.

Apakah kau lupa bahwa jalanmu mengajak untuk mengutamakan cinta dan maaf? Dan jangankan orang lain yang menghina agamamu, saudaramu yang berbeda pemahaman saja engkau kafirkan, engkau jauhi, dan engkau halalkan darahnya. Bukankah Tuhanmu saja tetap cinta kepada makhlukNya yang seperti ini, meskipun mereka bersujud atau menghinaNya? Kau cinta kepada agamamu, tapi kau persepsikan cinta yang diajarkan oleh Tuhanmu dengan caramu sendiri.

Anakku, selama kau begitu kuat terikat kepada sesuatu dan memfokuskan cintamu pada sesuatu itu, selama itu pula kau tidak akan menemukan Kesejatian sebuah cinta. Cintamu adalah Selfish Love, cinta yang mengharapkan, cinta karena menguntungkanmu. Cinta yang akan luntur ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah.

Dengan cinta seperti ini kau ibaratnya sedang mengaspal jalan. Kau tebarkan pasir di atas sebuah jalan untuk meninggikannya. Lalu kau keraskan dan kau lapisi atasnya dengan aspal. Pada awalnya tampak bagus, kuat, dan nyaman dilewati. Setiap hari kendaraan lewat di atasnya. Dan musim pun berubah, ketika hujan turun dengan derasnya, dan truk-truk besar melintasinya. Lapisannya mengelupas, dan lama-lama tampaklah lobang di atas jalan itu.

Cinta yang bukan True Love, adalah cinta yang seperti ini, yang akan berubah ketika sesuatu yang kau cintai itu berubah. Kau harus memahami hal ini, anakku.

Sekarang lihatlah, bagaimana Tuhanmu memberikan cintaNya. Dia mencintai setiap yang hidup, dengan cinta (rahman) yang sama, tidak membeda-bedakan. Manusia yang menyembahNya dan manusia yang menghinNya, semua diberiNya kehidupan. KekuasaanNya ada di setiap yang hidup.

Dia tidak meninggalkan makhlukNya, hanya karena si makhluk tidak lagi percaya kepadanya. Jika Dia hanya mencintai mereka yang menyembahNya saja, maka Dia namanya pilih kasih, Dia memberi cinta yang berharap, mencintai karena disembah. Dia tidak begitu, dia tetap mencintai setiap ciptaanNya. Itulah True Love. Cinta yang tak pernah berubah, walau yang dicintai berubah. Itulah cinta kepunyaan Tuhan.

Anakku, kau harus menyematkan cinta sejati ini dalam dirimu. Tanam bibitnya, pupuk agar subur, dan tebarkan bunga dan buahnya ke alam di sekitarmu.

Dan kau perlu tahu, anakku. Selama kau memfokuskan cintamu pada yang kau cintai, maka selama itu pula kau tak akan pernah bisa memiliki cinta sejati, True Love.

Cinta sejati hanya kau rasakan, ketika kau melihat Dia dalam titik pusat setiap yang kau cintai. Ketika kau mencintai istrimu, bukan kecantikan dan kebaikan istrimu itu yang kau lihat, tapi yang kau lihat “Oh my God! Ini ciptaanMu, sungguh cantiknya. Ini kebaikanMu yang kau sematkan dalam dirinya.”

Ketika kau lihat saudaramu entah yang sejalan maupun yang berseberangan, kau lihat pancaran CahayaNya dalam diri mereka, yang tersembunyi dalam misteri jiwanya. Kau harus bisa melihat Dia, dalam setiap yang kau cintai, setiap yang kau lihat.

Ketika kau melihat makanan, kau bilang “Ya Allah, ini makanan dariMu. Sungguh luar biasa!” Ketika kau melihat seekor kucing yang buruk rupa, kau melihat kehidupanNya yang mewujud dalam diri kucing itu. Ketika kau mengikuti sebuah ajaran, kau lihat Dia yang berada dibalik ajaran itu, bukan ajaran itu yang berubah jadi berhalamu.

Ketika kau melihat keyakinan lain, kau lihat Dia yang menciptakan keyakinan itu, dengan segala rahasia dan maksud yang kau belum mengerti.

Ketika kau bisa melihat Dia, kemanapun wajahmu memandang, saat itulah kau akan memancarkan cinta sejati kepada alam semesta. Cintamu tidak terikat dan terfokus pada yang kau pegang. Cintamu tak tertipu oleh baju filosofi, agama, istri, dan harta benda yang kau cintai. Cintamu langsung melihat titik pusat dari segala filosofi, agama, istri, dan harta benda, dimana Dia berada di titik pusat itu. Cintamu langsung melihat Dia.

Dan hanya Dia yang bisa memandang Dia. Kau harus memahami ini, anakku. Maka, dalam dirimu hanya ada Dia, hanya ada pancaran cahayaNya. Dirimu harus seperti bunga mawar yang merekah. Karena hanya saat mawar merekah lah akan tampak kehindahan di dalamnya, dan tersebar bau wangi ke sekitarnya.

Mawar yang tertutup, yang masih kuncup, ibarat cahaya yang masih tertutup oleh lapisan-lapisan jiwa. Apalagi mawar yang masih berupa batang, semakin jauh dari terpancarnya cahaya. Bukalah hatimu, mekarkan mawarmu.

Anakku, hanya jiwa yang telah berserah diri saja lah yang akan memancarkan cahayaNya. Sedangkan jiwa yang masih terlalu erat memegang segala yang dicintainya, akan menutup cahaya itu dengan berhala filosofi, agama, istri, dan harta benda. Lihat kembali, anakku, akan pengakuanmu bahwa kau telah berserah diri. Lihat baik-baik, teliti dengan seksama, apakah pengakuan itu hanya pengakuan sepihak darimu?

Apakah Dia membenarkan pengakuanmu? Ketika kau bilang “Allahu Akbar,” apakah kau benar-benar sudah bisa melihat ke-Akbar-an Dia dalam setiap yang kau lihat? Jika kau masih erat mencintai berhala-berhalamu, maka sesungguhnya jalanmu menuju keberserahdirian masih panjang.

Jalanmu menuju keber-Islam-an masih di depan. Kau masih harus membuka kebun bunga mawar yang terkunci rapat dalam hatimu. Dan hanya Dia-lah yang memegang kunci kebun itu. Mintalah kepadaNya untuk membukanya. Lalu, masuklah ke dalam taman mawarmu.

Bersihkan rumput-rumput liar di sana, gemburkan tanah, sirami batang mawar, halau jauh-jauh ulat yang memakan daunnya. Kemudian, bersabarlah, bersyukurlah, dan bertawakkallah. InsyaAllah, suatu saat, jika kau melakukan ini semua, mawar itu akan berbunga, lalu merekah menyebarkan bau harum ke penjuru istana.

Semoga Allah membimbingmu, anakku.

Semoga kiranya kita semua dapat mengambil mutiara sangat berharga yang Allah hunjamkan ke dalam hati guru kita, Bawa Muhayyadien dengan penuturannya yang indah tentang konsep cinta sejati.. Amin.

Ada sebuah hadis yang cukup masyhur di kalangan kita, berupa doa Rasulullah Saw,

اَللّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ . وَ حُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ . وَ حُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ …

Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu… Dan kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu… Dan kecintaan kepada amal yang bisa mendekatkan diri pada kecintaan-Mu…

Bagi penulis, inilah definisi yang bisa diambil. Cinta adalah sebuah rasa yang bersifat universal, berlaku bagi setiap manusia di manapun juga. Cinta yang sejati adalah tatkala seseorang mencintai Allah di atas segalanya, dan seseorang mencintai manusia lain yang juga mencintai Allah, dan mencintai setiap perbuatan yang melahirkan kecintaan kepada Allah…

Seorang hamba yang shalih tentu akan berjuang menemukan keshalihan dalam hidupnya. Ketika dia belajar mencintai Allah, tentunya akan belajar pula untuk mengenal Allah dengan benar, dan bagaimana dia bisa mengenal Allah jika dia belum mengenal dirinya. Untuk bisa mengenal dirinya, maka Allah pun menghadirkan mekanisme pasangan dalam hidupnya. Sehingga kehadiran pasangan itu lah yang akan menjadi salah satu jalan seseorang dapat mengenal Allah. Lalu sejauh manakah seseorang bisa menemukan pasangan yang tepat bagi dirinya sehingga dapat menjadi sarana pengenalan dirinya, akan terukur dari buang pengenalan dengan pasangan itu apakah amal-amal shalih yang tampil kelak, atau keburukan. Maka apabila dari interaksi seseorang itu dengan pasangannya melahirkan amalan demi amalan yang mendekatkan pada cinta Allah, kita bisa meyakini bahwa itulah jalan yang haq yang Allah tuntun hingga kelak kita bisa mengenal Dia dengan benar.

Demikian pula ketika kita membangun rasa cinta, dengan siapa pun juga, dengan benda mana pun juga, sepanjang rasa itu dapat membuahkan sebuah tindakan-tindakan keshalihan yang menjadi sarana kecintaan kepada Allah, maka semoga cinta yang kita bangun itu adalah sebuah cinta yang haq menurut Allah.

Dan sebaliknya apabila rasa cinta yang kita bangun malah membuahkan keburukan demi keburukan, pelanggaran demi pelanggaran, kemaksiatan demi kemaksiatan baru, maka bisa kita yakini pula bahwa itulah cinta yang tidak Haq, cinta yang malah menarik seseorang semakin jauh dari kecintaan Allah.
Selengkapnya...

Minggu, Februari 22, 2009

7 Langit, 7 Malaikat Penjaga dan 7 Amal Sang Hamba

Ada sebuah hadits yang menurut saya sangat penting untuk direnungkan, dimana haditsnya lumayan cukup panjang, mudah-mudahan kita semua memperoleh hikmahnya.
Dari Ibnu Mubarok dan Khalid bin Ma’dan, mereka berkata kepada Mu’adz bin Jabal ra., “Wahai Mu'adz! Mohon ceritakanlah kepada kami sebuah hadits yang telah Rasulullah saw. Ajarkan kepadamu, yang telah dihapal olehmu dan selalu di ingat-ingat olehmu, karena saking halus serta dalamnya akan makna ungkapannya...,hadits manakah yang engkau anggap sebagai hadits yang terpenting?”
Mu'adz ra. Pun menjawab, “baiklah.. akan aku ceritakan..” tiba-tiba Mu'adz menangis tersedu-sedu. Lama sekali tangisannya itu, hingga beberapa saat, kemudian beliau pun baru terdiam. Kemudian beliau berkata “Ehm,... sungguh aku rindu sekali kepada Rasulullah, ingin sekali aku bersua kembali dengan beliau...” kemudian Mu'adz ra. Pun melanjutkan...

“Suatu hari, ketika aku menghadap Rasulullah saw. Yang suci, saat itu beliau tengah menunggangi untanya. Kemudian Nabi menyuruhku untuk turut naik bersama beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta tersebut di belakang Beliau.
Kemudian aku melihat Rasulullah saw. Menengadah ke arah langit dan bersabda, “segala kesyukuran hanyalah diperuntukan bagi Allah yang telah menetapkan kepada setiap ciptaanNya apa-apa yang Dia kehendaki. Wahai Mu'adz...!” “Labbaik, wahai penghulu para rasul..!”
“Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila engkau menjaganya baik-baik, maka hal itu akan memberikan manfaat bagimu. Namun sebaliknya, apabila engkau mengabaikannya, maka terputuslah hujjahmu di sisi Allah Azza wa Jalla..!
“Wahai Muadz... Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati dan Maha Tinggi telah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan petala langit dan bumi. Pada setiap langit terdapat satu malaikat penjaga pintunya, dan menjadikan penjaga dari tiap pintu tersebut satu malaikat yang kadarnya disesuaikan dengan keagungan dari tiap tingkatan langitnya”.
Suatu hari naiklah malaikat Hafadzah dengan amalan seorang hamba yang amalan tersebut memancarkan cahaya, dan bersinar bagaikan matahari. Hingga sampailah amalan tersebut kelangit dunia yaitu sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah pun kemudian memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya. Namun, tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba malaikat penjaga pintu tersebut berkata, “Tamparlah wajah pemilik amal ini dengan amalannya tersebut!!Aku adalah pemilik ghibah, Rabbku memerintahkan kepadaku untuk mencegah setiap hamba yang telah berbuat ghibah di antara manusia –(membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain yang apabila orang itu mengetahuinya, dia tidak akan suka mendengarnya)- untuk dapat melewati pintu langit pertama ini..!!”.
Kemudian keesokkan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit beserta amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang cahayanya terus diperbanyak oleh Hafadzah dan disucikannya, hingga akhirnya dapat menembus ke langit ke-2. namun malaikat penjaga pintu langit kedua tiba-tiba berkata, “Berhenti kalian! Tamparlah wajah pemilik amal tersebut dengan amalannya itu... sesungguhnya dia beramal namun dibalik amalannya itu beramal hanya berharap duniawi belaka. Rabbku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalan si hamba yang berbuat itu melewati langit ke-dua ini untuk menuju langit berikutnya!...” mendengar itu semua, para malaikat pun melaknati si hamba tersebut hingga petang harinya.
Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba yang nampak indah, yang didalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya serta perbuatan baiknya yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya hingga akhirnya dapat menembus langit pertama dan kedua. Namun ketika sampai di pintu langit ke-3, tiba-tiba malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata...”Berhentilah kalian!... Tamparkanlah wajah pemilik amalan tersebut dengan amalan-amalannya itu! Aku adalah penjaga al-Kibr (sifat takabur). Rabbku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku, karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan manusia ketika berkumpul dalam setiap majelisnya (perkumpulannya).”
Malaikat Hafadzah lainnya naik kelangit demi langit dengan membawa amalan seorang hamba yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang gemintang dan planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung disebabkan oleh ibadah shaum, shalat, haji, dan umrah, hingga tampak menembus tiga langit pertama dan sampai ke pintu langit ke-4. Namun malaikat penjaga pintu tersebut berkata,...”Berhentilah kalian!.. Dan tamparkan dengan amalan-amalan tersebut ke wajah pemiliknya!..Aku adalah malaikat penjaga sifat ‘ujub (takjub akan keadaan dirinya sendiri). Rabbku memerintahkan kepadaku agar tidak membiarkan amalannya melewati-ku hingga menembus langit sesudahku. Dia selalu memasukkan unsur ‘ujub didalam jiwanya ketika melakukan sesuatu perbuatan!...”
Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan seorang hamba yang di iring bagaikan iringan pengantin wanita menuju suaminya. Hingga sampailah amalan tersebut menuju langit kelima dengan malannya yang baik berupa jihad, haji dan umrah. Amalan tersebut memliki cahaya bagaikan sinar matahari. Namun, sesampainya di pintu langit ke-5 tersebut, berkatalah sang malaikat penjaga pintu...”Saya adalah pemilik sifat hasad(dengki). Dia telah berbuat dengki kepada manusia ketika mereka diberi karunia oleh Allah. Dia marah terhadap apa-apa yang telah Allah ridlai dalam ketetapan-Nya. Rabbku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalan tersebut melewatiku menuju langit berikutnya...!”
Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, shaum-shaumnya, haji dan umrah, hingga sampailah ke langit yang keenam, Namun malaikat penjaga pintu langit ke-6 berkata,...”saya adalah pemilik ar-rahmat (kasih sayang). Tamparkanlah amalan si hamba tersebut ke wajah pemiliknya. Dia tidak memiliki sifat rahmaniah (kasih sayang) sama sekali di hadapan manusia. Dia malah merasa senang ketika melihat musibah menimpa hamba lainnya. Rabbku memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku menuju langit berikutnya...!”
Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang hamba berupa nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara’ (berhati-hati dalam beramal). Amalan terbut bergemuruh bagaikan guntur dan bersinar bagaikan kilatan petir. Namun ketika sampai pada langit ke-7, berhentilah amalan tersebut di hadapan malaikat penjaga pintunya. Malaikat itu berkata,..”Saya adalah pemilik sebutan (adz-dzikru) atau sum’ah (mencintai kemasyhuran) di antara manusia. Sesungguhnya pemilik amal ini berbuat sesuatu karena menginginkan sebutan kebaikan amal perbuatannya di dalam setiap pertemuan. Ingin disanjung di antara kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara para pembesar. Rabbku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalannya menembus melewati pintu langit ini untuk menuju langit sesudahnya. Dan setiap amal yang tidak diperuntukkan bagi Allah ta’ala secara ikhlas, maka dia telah berbuat riya’, dan Allah Azza wa Jalla tidak menerima amalan seseorang yang diiringi dengan riya’ tersebut...!”
Dan malaikat Hafadzah lainnya naik beserta amalan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang berbuahkan hasanah, berdiam diri, berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka seluruh malaikat di tujuh langit tersebut beriringan menyertainya hingga terputuslah seluruh hijab dalam menuju Allah swt. Mereka berhenti di hadapan Rabb yang Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya) bertajalli. Dan para malaikat tersebut menyaksikan amal sang hamba itu merupakan amal shalih yang diikhlaskannya hanya bagi Allah Ta’ala.
Namun tanpa disangka, Allah swt. Berfirman ...”Kalian adalah malaikat hafadzah yang menjaga amal-amal hamba-Ku, dan Aku adalah Sang Pengawas, yang memiliki kemampuan dalam mengamati apa-apa yang ada di dalam dirinya. Sesungguhnya dia dengan amalannya itu, sebenarnya dia tidak menginginkan Aku. Dia menginginkan selain Aku!...Dia tidak mengikhlaskan amalannya bagi-ku. Dan Aku maha Mengetahui terhadap apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut. Namun Aku sama sekali tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah yang maha Mengetahui segala yang ghaib, yang memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam qalb-qlab. Tidak ada satupun di hadapan-ku yang tersembunyi, dan tidak ada yang samar di hadapan-Ku terhadap segala yang tersamar. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang belum terjadi. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah berlalu sama dengan pengetahuan-Ku terhadap yang akan datang. Dan pengetahuan-Ku terhadap segala sesuatu yang awal sebagaimana pengetahuan-Ku terhadap segala yang akhir. Aku lebih mengetahui sesuatu yang rahasia dan tersembunyi. Bagaimana mungkin hamba-Ku menipu-Ku dengan ilmunya. Sesungguhnya dia hanyalah menipu para makhluk yang tidak memiliki pengetahuan, dan Aku Maha Mengetahui segala yang ghaib. Baginya laknat-Ku!!...
Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga tujuh langit beserta tiga ribu pengiringnya,..”Wahai Rabb Pemelihara kami, baginya laknat-Mu dan laknat kami.” Dan berkatalah seluruh petala langit,...”Laknat Allah baginya dan laknat mereka yang melaknat buat sang hamba itu..!”
Mendengar penuturan Rasulullah Saw sedemikian rupa, tiba-tiba menangislah Mu’adz Rahimahullah, dengan isak tangis yang cukup keras...lama baru terdiam kemudian beliau pun berkata dengan lirihnya,...”Yaa Rasulullah, bagaimana bisa aku selamat dari apa-apa yang telah engkau ceritakan tadi?” Rasulullah saw. Pun bersabada “Oleh karena itu wahai Mu’adz...Ikutilah Nabimu di dalam sebuah keyakinan...”.
Dengan suara yang bergetar Mu’adz pun berkata, “Engkau adalah seorang Rasul Allah, dan aku hanyalah seorang Mu’adz bin jabal...Bagaimana aku bisa selamat dan lolos dari itu semua..??” Nabi yang suci pun bersabda,...”Baiklah wahai Muadz, apabila engkau merasa kurang sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah lidahmu dari ucapan ghibah dan fitnah terhadap saudara-saudaramu yang sama-sama memegang Al-Quran. Apabila engkau hendak berbuat ghibah atau memfitnah orang lain, haruslah ingat kepada pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana engkau telah mengetahui bahwa dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib. Janganlah engkau mensucikan jiwamu dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Jangan angkat derajat jiwamu dengan cara menekan orang lain. Jangan tenggelam di dalam memasuki urusan dunia sehingga hal itu dapat melupakan urusan akhiratmu. Dan janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu terdapat orang lain yang tidak diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung dan terhormat di hadapan manusia, karena hal itu akan membuat habis terputus nilai kebaikan-kebaikanmu di dunia dan akhirat. Janganlah berbuat keji di dalam majelis pertemuanmu sehingga akibatnya meraka akan menjauhimu karena buruknya akhlakmu. Janganlah engkau ungkit-ungkit kebaikanmu di hadapan orang lain. Janganlah engkau robek orang-orang dengan lidahmu yang akibatnya engkau pun akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman-Nya ta’ala, “Demi yang merobek-robek dengan merobek yang sebenar-benarnya.”(QS An-Naaziyat[79:2]) Di neraka itu, daging akan dirobek hingga mencapai tulang..” Mendengar penuturan Rasulullah saw sedemikian itu, Mu’adz kembali bertanya dengan suara yang semakin lirih, “Yaa Rasulullah, siapa sebenarnya yang akan mampu melakukan itu semua...??”
“Wahai Mu’adz!sebenarnya apa-apa yang telah aku paparkan tadi dengan segala penjelasannya serta cara-cara menghindari bahayanya itu semua akan sangat mudah bagi dia yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala..Oleh karena itu cukuplah bagimu mencintai sesama manusia, sebagaimana engaku mencintai dirimu sendiri, dan engku membenci mereka sebagaimana dirimu membenci-nya. Dengan itu semua niscaya engkau akan mampu dan selamat dalam menempuhnya...!!”
Khalid bin Ma’dan kemudian berkata bahwa Mu’adz bin jabal ra. Sangat sering membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau membaca Al-Quran, dan sering mempelajarinya serta menjaganya sebagaimana beliau mempelajari dan menjaga Al-Quran di dalam majelis pertemuannya.
Selengkapnya...